Minggu, 20 September 2009

mengapa matahari tidak seramah bulan?

bahwa hidup adalah sebuah catatan suatu hubungan yang selalu terkait dengan Sang Pecipta, Alam dan makhluk hidup..

siang ini aku bertemu pandang dengan matahari, mata ku silau dan terasa sakit sekali, entah kenapa keinginan ku melihat langit membuat ku lupa ada matahari yang menjaga langit disaat siang, aku jadi teringat ketika aku masih kecil, saat udara siang hari aku akan memaksa kan diriku untuk melihat matahari,dan itu membuat mata ku sakit sekali dan harus ke dokter specialis mata, bahkan mata ku menjadi bengkak, ayah mencoba memberi penjelasan pada ku tentang apa yang aku lakukan, penuh kesabaran dan sedikit membujuk, ayah coba menghentikan kebiasaanku, bahkan ayah sampai memberikan contoh banyak hal, aku cuma terdiam dan menunduk, menimbulkan banyak pertanyaan yang sampai sekarang aku masih belum menemukan jawabannya sampai aku sendiri meninggalkan pertanyaan itu menjadi hal yang tidak ingin aku ketahui dan membiarkan pertanyaan itu menjadi kenangan, mengapa pada siang hari kita tidak boleh menikmati keindahan langit, kenapa harus malam hari?kenapa matahari begitu kuat menjaga langit pada siang hari?apakah Tuhan sedang bekerja dilangit sana dan tidak ingin diganggu pada siang hari?kenapa matahari tidak seramah bulan?
aku mencoba mengingat kembali senyuman ayahku, mencoba memberikan penjelasan untuk pertanyaan-pertanyaan ku, papa bilang mata ku diciptakan Tuhan dengan sempurna, dan Tuhan memberikan mata bukan cuma untuk memandang keatas tetapi kedepan,ke kiri,ke kanan, ke belakang dan ke bawah, Tuhan tidak mau kalo sampai manusia terbius dengan ke indahan langit dan tidak melihat ke lain arah lagi, dan aku kembali bertanya bukankah dimalam hari kita tidak terlalu cukup waktu untuk melihat ke langit?kita sudah capek dan lelah beraktivitas sehari. ayah menjawab dengan sabar bahwa jika kita selalu memandang ke atas maka kita akan melupakan yang dibawah..melupakan yang ada disekitar kita, Tuhan ingin kita benar-benar bisa membuka mata kita untuk sekeliling kita, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang kita lihat..
ayah, saat ini aku terlalu ingin melihat keatas, mata ku tak bisa untuk menahan menunggu malam untuk memandang ke langit, aku ingin matahari yang sangat menyakitkan ini, aku tau ayah ini akan membuat aku buta dan tidak lagi melihat yang lainnya bahkan aku tidak akan bisa lagi melihat matahari itu sendiri, mengapa matahari aku tidak bisa memandang keatas jika ada dirimu?mengapa kau tidak seramah bulan?mengapa matahari?

Selasa, 08 September 2009

catatan seorang perempuan dalam cerita sibuah mangga dan nenek

aku memejamkan mataku,dan mulai menikmati alunan musik instrumental dari heatset HP ku, angin mulai bermain-main dengan udara panas sepanjang jalan jakarta menuju penyebrangan pulau sumatra, aku menghela nafas panjang saat melewati jalan-jalan yang menyisakan kenangan padaku, Bandar Lampung, sebuah tempat yang membuat aku menjadi siuman tentang realitas hidup yang tidak selalu memihak kepada keinginan kita,banyak hal yang harus dikompromikan kepada diri kita untuk terus bersabar, banyak hal yang membuat ku sanggup untuk tidak memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada siapapun, membuat ku lebih egois dan sedikit saja memiliki belas kasih, bahkan kini hatiku yang dulu penuh harap berisi sebuah kata sebaiknya terjadilah yang harus terjadi,tidak ada mimpi lagi,tidak ada angan-angan lagi,semua tertutup oleh kekecewaan, tapi aku tersadar ketika aku harus mengatakan ini kepada banyak orang, bahwa aku sedikit lebih baik saat ini dengan hari-hari dimana aku terus melewatkan sakit hatiku dengan bercerita, dan mencoba mengingat kisah melalui dia seorang perempuan anggun yang memiliki rambut panjang,berhelai tipis dan berwarna putih,kulit kering dan keriput,tubuhnya bungkuk dan sering lupa dimana dia meletakkan kacamatanya.
seorang pedagang keliling lewat menawarkan buah mangga yang sangat ranum fisiknya,berwarna hijau kekuning-kuningan,wanginya membuat ku ingin memiliki semua buah mangga yang ditawarkannya,aku ingin membelinya,aku ingin menikmati kenikmatan yang ditawarkan oleh fisik buah mangga itu, aku merengek-rengek meminta mamaku membeli buah mangga itu, dan sepertinya mama setuju, tiba-tiba nenek menggelengkan kepalanya,meminta supaya mama ku jangan membeli buah mangga itu, tapi aku terus memilih buah mangga itu dan alhasil mama tetap membeli buah mangga itu dengan harga yang sangat mahal dibanding dipasar, sesampai dirumah buah mangga itu dikupas mama,dan dari 10 buah mangga itu tak satupun yang bagus,semuanya penuh ulat, jadi tak satupun bisa dimakan,aku kecewa sekali dan menyesal telah memaksa mama membeli dengan harga yang sangat mahal, walaupun mama tidak marah,tapi aku tetap merasa bersalah,dan nenek mengerti perasaanku,nenek memelukku dan mencium pipiku,saat itu usiaku 8 tahun, "cucu nenek yang cantik,nenek senang kamu suka buah tapi apa yang kamu lihat itu enak dan bagus,belumlah tentu isi nya bagus"
"terus yang bagus itu apa harus jelek luarnya nek?"tanyaku..nenek pun semakin melebarkan senyum yang manis, "bukan harus jelek,dan bukan pula harus bagus,penampilan luar bukan yang utama,yang penting bagaimana kamu bisa mengenali sesuatu sebelum kamu memilih"
aku semakin bingung dengan kata-kata neneknya, "bagaimana cara memilih yang baik nek?"
"caranya adalah kamu harus jatuh biar bangkit,kamu harus sakit dulu biar bisa lebih menghargai kesehatan,kamu harus berbaring dulu toh biar bisa berdiri, nah untuk memilih pun kamu harus tau,pengalaman lah yang akan mengajari kamu"
mungkin berat sekali pembicaraan diatas,tapi itu terjadi diantara aku dan nenek, mungkin sebagian berpikir teralu berlebihan membicarakan hal tersebut pada seorang anak kecil tentang makna hidup, namun buat nenek untuk bisa hidup tidak ada batasan bahwa sesuatu harus tau ketika pada waktunya, nenek adalah seorang guru dari pengakuan batin ku,karena nenek menganggap bahwa aku harus bisa mengenali hidup sebelum aku melewati hidup begitu saja,dan nenek mencoba mengisi hidupnya menjadi guru buat seorang yang ia sayangi,memberikan banyak hal-hal yang pernah ia alami sebagi senjata buat ku untuk menghadapi masa depan ketika harus terlepas darinya suatu saat nanti.