" Berjalan dalam hujan, membuat semuanya bercampur luruh dengan dinginnya air, menapaki alas tanpa jejak, air mata mengalir seiring air yang mengalir dari langit dan jatuh tepat di hati yang paling dalam, dalam kesedihan tak terbatas, nada keraguan ku muncul dan aku bertanya pada angin yang menemani ku menemui hujan, dan bersatu dalam jiwa yang terhilang, setelah aku tau aku gagal dalam langkah."
ketika hujan datang, nada-nada indah dari deru hujan seolah-olah menjadi bagian yang paling aku sukai dari proses alam yang ada, menjadi bagian yang selalu membuat aku bertanya tentang satu rasa yang membuat aku merasa percaya, ada kekuatan yang mengikat dari hujan, rintikan yang menjadi satu akar yang semakin mengakar menembus jiwa ku yang telah hilang, disana ada tawa yang pernah hilang bersamanya..
Namanya Ivan Rumenige, seorang laki-laki yang menghias mimpi perempuan yang suka beradu dalam hujan, perempuan yang sangat siuman untuk suatu kesetiaan, perempuan yang mampu untuk diandalkan kesetiaannya.
sambil memandang ke arah luar jendela, dia mencoba mengumpulkan setiap serpihan yang hilang, remuknya janji karena lemahnya hati laki-laki yang bernama Ivan. sambil mengunyah permen coklat kesukaannya, dan menghela nafas begitu dalam "hujan membuat aku ingin bernyanyi" rasanya kalo bisa melebur menjadi perempuan itu, itulah yang akan dikatakan perempuan itu dalam kesendiriannya, dalam kesedihan dan harapan yang patah.
rasanya dia adalah perempuan yang cukup kuat dalam menapaki hidup ini, ketika melihat dia dalam gambaran kekecewaan dalam masalalu nya, satu rasa yang akan menjadi penyesalan adalah dia tidak cukup tempat untuk kebenciannya. kesalahan dalam memaknai cinta menjadikan dia dalam keputusan yang memenjarakannya dalam satu kebencian yang dalam.
perempuan ini punya nama yang indah "perempuan yang senang berdoa" itu arti nama nya dalam bahasa ibrani, setidaknya itu yang bisa menjadi referensi hidupnya untuk menyerahkan apa yang menjadi tanggung jawab dan gambaran hidup yang hrus dilaluinya.
dia banyak bercerita pada telinga-telinga yang ia percaya, dia mencoba mengerti dengan caranya sendiri karena laki-laki itu menjadikannya harus mencari jawaban itu sendiri untuk pertanyaan "dimana letak kesetiaan bila hanya dalam kata-kata" laki-laki itu seperti air yang mengalir dan berlalu begitu saja, tanpa menghadapinya sebagai suatu kesalahan dan harus dipertanggung jawabkan, satu hal yang ia dapat dari seorang sahabatnya tentang pria itu adalah, orang bebal lebih berbahaya dari seekor beruang betina yang kehilangan anaknya, satu pandangan yang di ambil dari amsal-amsal salomo. benar, entah laki-laki itu sadar atau tidak, betapa berartinya laki-laki itu dalam hidup perempuan ini, betapa dia menjadikan harapan dalam masa depannya untuk menjadi pendamping hidupnya, betapa dia sangat menghargai laki-laki itu, tapi laki-laki itu adalah laki-laki yang terbatas pada mata dan sudut pandang yang belum matang, laki-laki itu cuma seorang bebal yang tidak pernah bisa memaknai janji seperti apa, perempuan itu terus bertanya dalam hatinya untuk apa janji dibuat jika harus dilanggar, hukuman apa yang harus didapatkan pria ini untuk semua kesalahannya, laki-laki yang hanya inginkan hal indah tanpa menerima kekurangan pasangannya untuk menjadikannya lebih bahagia kedepannya, arogansi dan keputusan yang tanpa pertimbangan dan pemahaman yang sempit, setidaknya laki-laki yang bernama ivan itu perlu belajar pada awan yang merelakan dirinya untuk menyirami bumi ini dari kekeringan, bukan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari seekor betina atau sesuatu yang sangat menakutkan..untuk apa janji di buat jika dilanggar, betapa banyak kebohongan yang keluar dari mulutnya, sementara mulut itu juga mengeluarkan pujian, perempuan itu terdiam!
dalam hujan dia mencoba mencari jawabannya, dalam hujan dia berkata dimanakah kesetiaan itu jika hanya dimulut saja?hukuman apa yang pantas untuk laki-laki itu?
laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang ia kenal 3 tahun silam, tapi yang berbeda adalah dia bukan laki-laki yang berintegritas, demi apa yang inginkan dia menjadikan perempuan itu figur keegoisan dimata subyek yang diinginkan laki-laki itu, laki-laki yang selalu tidak pernah siuman dalam melangkah, laki-laki tanpa masa depan yang lebih baik, laki-laki yang kelaki-lakian..
perempuan itu tertunduk melepaskan semua kekesalannya, perempuan ini menangis dalam deru hujan yang ia pernah kenal dulu sebagai pengalaman yang tidak terlupakan olehnya, sebuah rel kereta api menjadi saksi betapa laki-laki ingin mewujudkan cintanya dalam harapan-harapan dan mimpi perempuan itu, tertunduk lagi, dan perempuan itu semakin hanyut dengan air hujan yang tadi hanya dipandangnya, kini kaki-kai itu menapaki air yang terus mengalir, entah dari mana datangnya nada-nada itu, seolah-olah menyanyikan lagu sedih yang mampu melampiaskan kesedihannya, lagu"dont cry" milik G&R, grup musik luar yang sangat disukainya, sambil menatap keatas langit, dan membiarkan air mata nya bersatu dengan air hujan, laki-laki itu tidak tau betapa egoisnya hati sempit laki-laki itu, betapa perempuan itu merindukan saat-saat bersamanya, betapa jahatnya pria itu membentuk suatu karakter keegoisan dalam diri perempuan itu hanya untuk mendaaptkan perempuan yang tidak lebih baik dari perempuan itu.
"aku menangis, dan air mata ku terus mengalir sementara hatiku semakin beku, jalanku tidak terlihat tertutup oleh rintikan air mataku sendiri, jiwaku semakin terpenjara, dan aku menatap ke atas, seolah aku ingin bercerita pada MU, tentang dia yang menjadikan aku satu abu yang tak berbentuk, mengambil semua bagian dalam hidupku untuk menjadi lebih beku dalam hati yang beku terdahulu, dengan apa ini semua menjadi alasan aku untuk percaya pada satu zat yang disebut karunia untuk sesama, zat yang sering disebut Cinta?"
perempuan ini berkata-kata dalam hatinya, sementara hujan terus mengalir membentuk nada-nada baru, angin melepaskan belaian yang begitu lembut sementara jiwanya terus membeku, satu nama dalam hatinya terhilang oleh satu kesalahan, kesalahan yang menghancurkan jiwa-jiwa indah, rasa yang menuntut kepercayaan untuk menjadi satu hukuman, sakit dan perih itu menjadi bumbu dalam racikan hidup untuk terus bertahan hidup.
"aku percaya, suatu hari nanti.."
perempuan itu tidak melanjutkan dialog dalam hatinya, perempuan itu terdiam... dan hanya satu gerakan jiwa yang telah mati..jiwa yang mati karena kebekuan yang amat sangat, perempuan yang bermain hujan berjenti dalam satu kalimat, aku percaya suatu saat nanti, entah apa ujung..
sementara hujan terus bergerak cepat, meliuk-liuk, nada-nada tersusun rapi, seonggok raga yang penuh dengan kebekuan jatuh tersungkur dirata nya bumi...sebelum sempat melanjutkan kata-kata
"aku percaya, suatu hari nanti,.."
inikah yang disebut laki-laki yang bernama ivan itu bahagia untuk seorang perempuan yang memiliki nama "senang berdoa"?"
suatu hari nanti..
Selasa, 11 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar