Selasa, 08 September 2009

catatan seorang perempuan dalam cerita sibuah mangga dan nenek

aku memejamkan mataku,dan mulai menikmati alunan musik instrumental dari heatset HP ku, angin mulai bermain-main dengan udara panas sepanjang jalan jakarta menuju penyebrangan pulau sumatra, aku menghela nafas panjang saat melewati jalan-jalan yang menyisakan kenangan padaku, Bandar Lampung, sebuah tempat yang membuat aku menjadi siuman tentang realitas hidup yang tidak selalu memihak kepada keinginan kita,banyak hal yang harus dikompromikan kepada diri kita untuk terus bersabar, banyak hal yang membuat ku sanggup untuk tidak memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada siapapun, membuat ku lebih egois dan sedikit saja memiliki belas kasih, bahkan kini hatiku yang dulu penuh harap berisi sebuah kata sebaiknya terjadilah yang harus terjadi,tidak ada mimpi lagi,tidak ada angan-angan lagi,semua tertutup oleh kekecewaan, tapi aku tersadar ketika aku harus mengatakan ini kepada banyak orang, bahwa aku sedikit lebih baik saat ini dengan hari-hari dimana aku terus melewatkan sakit hatiku dengan bercerita, dan mencoba mengingat kisah melalui dia seorang perempuan anggun yang memiliki rambut panjang,berhelai tipis dan berwarna putih,kulit kering dan keriput,tubuhnya bungkuk dan sering lupa dimana dia meletakkan kacamatanya.
seorang pedagang keliling lewat menawarkan buah mangga yang sangat ranum fisiknya,berwarna hijau kekuning-kuningan,wanginya membuat ku ingin memiliki semua buah mangga yang ditawarkannya,aku ingin membelinya,aku ingin menikmati kenikmatan yang ditawarkan oleh fisik buah mangga itu, aku merengek-rengek meminta mamaku membeli buah mangga itu, dan sepertinya mama setuju, tiba-tiba nenek menggelengkan kepalanya,meminta supaya mama ku jangan membeli buah mangga itu, tapi aku terus memilih buah mangga itu dan alhasil mama tetap membeli buah mangga itu dengan harga yang sangat mahal dibanding dipasar, sesampai dirumah buah mangga itu dikupas mama,dan dari 10 buah mangga itu tak satupun yang bagus,semuanya penuh ulat, jadi tak satupun bisa dimakan,aku kecewa sekali dan menyesal telah memaksa mama membeli dengan harga yang sangat mahal, walaupun mama tidak marah,tapi aku tetap merasa bersalah,dan nenek mengerti perasaanku,nenek memelukku dan mencium pipiku,saat itu usiaku 8 tahun, "cucu nenek yang cantik,nenek senang kamu suka buah tapi apa yang kamu lihat itu enak dan bagus,belumlah tentu isi nya bagus"
"terus yang bagus itu apa harus jelek luarnya nek?"tanyaku..nenek pun semakin melebarkan senyum yang manis, "bukan harus jelek,dan bukan pula harus bagus,penampilan luar bukan yang utama,yang penting bagaimana kamu bisa mengenali sesuatu sebelum kamu memilih"
aku semakin bingung dengan kata-kata neneknya, "bagaimana cara memilih yang baik nek?"
"caranya adalah kamu harus jatuh biar bangkit,kamu harus sakit dulu biar bisa lebih menghargai kesehatan,kamu harus berbaring dulu toh biar bisa berdiri, nah untuk memilih pun kamu harus tau,pengalaman lah yang akan mengajari kamu"
mungkin berat sekali pembicaraan diatas,tapi itu terjadi diantara aku dan nenek, mungkin sebagian berpikir teralu berlebihan membicarakan hal tersebut pada seorang anak kecil tentang makna hidup, namun buat nenek untuk bisa hidup tidak ada batasan bahwa sesuatu harus tau ketika pada waktunya, nenek adalah seorang guru dari pengakuan batin ku,karena nenek menganggap bahwa aku harus bisa mengenali hidup sebelum aku melewati hidup begitu saja,dan nenek mencoba mengisi hidupnya menjadi guru buat seorang yang ia sayangi,memberikan banyak hal-hal yang pernah ia alami sebagi senjata buat ku untuk menghadapi masa depan ketika harus terlepas darinya suatu saat nanti.

3 komentar:

  1. for what its worth, jatuh kali ini pelajarannya lebih besar drpd traumanya ya..
    never give up, OK? =)

    ronald stefanus
    silly_bonehead

    BalasHapus
  2. mengenal dulu baru mengambil nya....hmmm.. inti nya harus lebih bijak..........

    oK sesuatu yg mengecewakan itu pelajaran untuk seterus nya...so must can be up..

    BalasHapus
  3. terkadang kita harus merasakan kekecewaan untuk mengetahui bahwa itu adalah sesuatu yang mengecewakan dan berharap suatu hari nanti tidak akan mengulangi kekecewaan...
    Sesuatu untuk pelajaran...

    BalasHapus